Pertemuanku dengannya bisa dibilang unik, kalau tidak mau dikatakan kebetulan. Masih kuingat jelas sosoknya saat itu. Model rambut spike-nya, warna pakaiannya, panjang celananya, model tas samping yang ia kenakan, merk jam tangannya, dan andai saja pada saat itu hidungku tidak tersumbat karena pilek, aku yakin akan ingat aroma parfum yang ia pakai! Dan yang paling mendalam adalah tatapan matanya. Tatapan matanya yang mengarah padaku, saat tangan kami bersentuhan. Ketika kami mengambil CD yang sama. CD Sum 41.
Namun rupanya sosok yang berada di depanku itu terlalu tampan. Aku selalu lemah pada cowok-cowok yang tampan. Entahlah. Dan aku pun melepaskan CD itu padanya. Di luar dugaan, saat-saat dimana cowok itu akan mengalah dan memberikannya padaku tidak pernah datang dan dia menerima tawaranku dengan senang hati. Ia tampak puas. Tersenyum lebar pada CD Sum 41.
Dan disinilah aku berperan, mengamatinya. Mengaguminya diantara orang yang berlalu lalang dan musik yang mengalun.
Malam minggu, seperti biasa aku selalu ke tempat favoritku, 'Music Freak'. Setelah mengamati kalau-kalau ada CD baru, aku langsung duduk di kafe 'Music Freak' sambil menikmati fasilitas Hotspot. Sesekali aku melihat sekeliling. Mencari sosok laki-laki yang bahkan tak ku ketahui namanya itu. Kafe semakin ramai, dan yang paling menyebalkan mereka semua berpasangan. Entahlah, menyebalkan sekali melihat mereka. Mungkin mereka merasa dunia ini hanya milik mereka berdua. Tak peduli pada apapun. Mereka sangat egois. Jujur aku tak pernah mengerti pada apa yang mereka pikirkan. Dan dapat disimpulkan, ketidaksukaanku melihat mereka tidak lebih dari ekspresi iri. Menyedihkan.
Jantungku mulai berdegub kencang saat lelaki yang aku kagumi itu muncul dari balik pintu. Gaya nya yang cool dan cuek, senyum tipisnya, dan cara berjalannya yang tergesa-gesa dan gesit membuatku berpaling dari notebook-ku selama beberapa menit.
Kulihat ia juga sedang berkonsentrasi didepan notebook-nya. Sesaat kemudian ia mengenakan headphones warna hitamnya. Dia penggemar musik. Sudah pasti. Kalau bukan, tidak mungkin ia merelakan setiap malam minggunya untuk kerja part time di 'Music Freak' milik salah satu temannya itu. Sungguh menyenangkan melihat ia duduk sendiri setiap malam minggu. Dan dalam satu minggu pertama setelah peristiwa berebut CD itu, tak pernah kulihat ia berduaan dengan perempuan lebih dari sepuluh menit. Menyenangkan.
Sayangnya, sampai saat ini aku belum pernah menyapanya lagi. Dia juga tidak pernah menyapa ataupun basa-basi. Padahal ia terlihat riang pada setiap teman-temannya yang berkunjung. Memangnya apa yang kuharapkan? Aku tak mau dianggap sok kenal. Terlebih aku tak ingin terlihat sangat menginginkannya. Meskipun itulah yang sebenarnya.
Kembali kumainkan jari tangan ku untuk menelusuri situs perkenalan MySpace dan membuka akun ku. Terakhir kali, aku mengupload videoku bernyanyi sambil bermain gitar di dalam kamar. Iseng saja sebenarnya. Maklum, aku tidak pernah menyanyi secara serius di depan umum, dan aku juga tidak pernah lolos seleksi ajang pencarian bakat. Jadi mengupload videoku ke dunia maya adalah cara yang paling mudah untuk meng-ekspose penampilanku pada semua orang. Percaya diri memang beda tipis dengan tidak tahu malu.
Ternyata sudah ada beberapa komentar yang terposting. Kebanyakan hanya bualan yang tidak bermanfaat. Namun ada satu komentar yang membuatku tertarik.
Egi : “Think before you make up your mine, you don't seem to realize. I can
do this on my own. And If I fall, I'll take it all. It so easy after all. :)”
Karena penasaran, aku membuka profil seseorang yang memberikan komentar itu. Aku tergelak tak percaya saat melihat foto profil miliknya. Fotonya yang mati pun dapat meningkatkan frekuansi detak jantungku. Hanya dia yang dapat membuatku merasa begini. Ya, dia! Dia bernama Egi Pramudya.
Komentar itu ter posting satu minggu yang lalu. Dan aku belum menanggapi komentar Egi! Bagaimana kalau dia menganggapku sombong? Mendadak aku jadi salting dan malu sendiri. Aneh. Seharusnya aku menyapanya saat kita bertemu muka nanti. Tapi aku tak tahu harus berbicara apa. Tapi paling tidak, kini aku tahu dia belum melupakanku. Penampilanku yang nyaris tidak pernah dilihat oleh siapapun itu kini telah dilihat oleh orang yang kukagumi. Tidak menutup kemungkinan, ia juga penasaran padaku. Pasti.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan aku pun bergegas pulang. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, melewati meja Egi. Sampai saatnya tiba, pandang kami bertemu dan aku hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum sebagai ganti ucapan, “ Aku pulang duluan ya, terima kasih atas komentar nya.”
Dia pun membalas dengan mengangkat kedua alis dan senyum yang sangat tipis. Ternyata dia sangat cuek. Benar-benar cuek. Tapi aku tidak menyesal melakukannya. Dan balasannya yang sangat singkat itu, kuartikan sebagai, “Ya, sama-sama. Minggu depan main lagi, ya?”
Pasti! Aku akan datang lagi.
***
Malam minggu ke dua ini aku datang lebih awal. Suasana masih belum ramai dan Egi juga belum datang. Dua jam berlalu dan langkah-langkah gesit nya belum terlihat juga. Aku mulai kecewa. Hari ini dia tidak akan datang. Mood-ku jadi jelek dan tambah jelek saat suasana menjadi lebih ramai. Lebih baik pulang saja!
Aku keluar dari 'Music freak' dan dua detik kemudian aku menyesal kenapa tidak pulang dari tadi, atau pulang nanti saja. Kenapa aku harus melihat pemandangan yang menyebalkan. Egi berada di dalam sebuah mobil bersama seorang perempuan. Perempuan yang tinggi dan sangat cantik. Mereka terlihat sangat dekat. Perempuan itu sungguh perhatian. Sudut mata Egi sempat melihat ke arah ku, sebelum kaca mobilnya tertutup dan melaju menjauhi ku.
Aku kecewa. Jelas. Lelaki pertama yang sangat kukagumi ternyata sudah tidak sendiri. Untuk apa aku berharap lebih selama ini. Sia-sia saja, seperti orang bodoh. Aku harus melupakannya. Aku harus bersikap biasa saja.
***
Malam minggu ke tiga ini aku ke 'Music Freak' untuk mencari CD baru dan ber-hotspot ria di kafe. Aku memilih tempat duduk yang kosong di bagian paling pojok. Beberapa menit kemudian Egi datang dan melihat seisi kafe seolah mencari seseorang. Huh! Aku tidak mau melihatnya. Tapi beberapa saat kemudian aku kembali mengamatinya dan secara tidak sengaja pandang kami bertemu. Aku memalingkan muka secepatnya untuk menghindari tatapan matanya. Bodohnya, setelah itu aku kembali menoleh padanya dan dia masih menatapku. Pandangnya berhenti padaku dan saat itulah aku sadar bahwa yang dia cari dari tadi adalah aku.
Dia sangat santai. Dia duduk semeja denganku seolah-olah dia sudah berteman lama denganku.
“Maaf mengganggu, boleh duduk disini?”
“Boleh,” jawabku sambil terus menatap notebook.
Setelah itu dian terus mengajakku berbincang bincang. Entah kenapa aku juga merasa sangat cocok dengannya. Topik pembicaraan kita hampir selalu sama.
Dia terus berbicara, dan saat dia berbicara aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil terus melihatnya sampai dia meninggalkan mejaku dan tidak terlihat lagi oleh mataku.
Aku tidak habis pikir. Tiga minggu yang lalu aku bertemu dengan Egi secara kebetulan. Lalu aku menyukainya saat itu juga. Seperti kebanyakan cowok tampan lainnya, dia sangat cuek. Namun dengan kebetulan juga dia menemukan profilku di MySpace, menyapaku, dan malam ini aku berbincang lama dengannya. Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang dia pikirkan tentangku?
Malam minggu ke empat. Masih dengan antusias aku memainkan jari-jari ku untuk menjelajahi dunia maya di pojok 'Music Freak'. Malam ini cukup sepi. Hari ini bahkan 'Music Freak' dijaga oleh orang yang tak ku kenal sebelumnya. Egi dan teman-temannya sama sekali tidak ada. Apa yang mereka lakukan?
Suasana ini sungguh sangat tidak menyenangkan. Tiba-tiba aku juga merasakan hal aneh menyelimutiku. Seolah sekitarku menjadi dingin. Aku merasakan atmosfir yang lain. Detik-detik berikutnya aku merasakan pererasaasaan-perasaan yang campur aduk. Aku merasa sedih dan kosong tanpa sebab yang jelas. Kesunyian ini membuatku ketakutan.
Pada hari minggu, aku sengaja datang ke 'Music Freak' untuk menemui Egi. Namun yang kutemui justru seorang wanita cantik. Wanita yang ternyata adalah kakak Egi. Aku telah salah paham. Wanita yang ada di dalam mobil bersama Egi beberapa minggu yang lalu adalah kakaknya, bukan kekasihnya. Ketika aku bertemu dengan wanita itu, pada saat itulah aku tahu bahwa Egi sudah tidak ada disini dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
Dengan wajah sedih, wanita itu menyerahkan sebuah benda terbungkus rapi padaku. Bungkusan itu dari Egi. Bungkusan itu dititipkan padanya untuk diberikan padaku jika dia sudah pergi.
Aku duduk di pojok 'Music Freak' dengan lunglai. Aku pun membuka bungkusan yang ada di tanganku. Aku sangat terharu begitu tahu bahwa benda yang terbungkus itu adalah CD Sum 41. Aku membuka CD itu dan mendapati sepucuk surat didalamnya. Kutarik napasku dan mulai membacanya.
Hai Valerine,
Jujur, aku masih belum menemukan sapaan yang pas untuk mengawali surat ini ;) Aku tidak tahu bagaimana persisnya reaksimu saat membaca surat ini. Maafkan aku Val. Aku harap kamu dapat memaafkan aku. Apapun reaksimu, aku mengartikannya sebagai jawaban “Iya”. Saat kamu membaca surat ini, mungkin kau juga akan sadar betapa miripnya kita. Aku tidak ingin membayangi hidupmu, tapi hal ini harus aku ungkapkan. Bahwa aku menyukaimu semenjak pertama kali kita bertemu. Percaya atau tidak, kamu adalah gadis yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun dan aku memang tidak ingin melakukannya. Untuk apa aku jatuh cinta, kalau aku sudah tahu kapan aku akan mati? Dulu aku tidak pernah percaya pada keajaiban. Namun nyatanya Tuhan memberikan rasa cinta justru pada saat ajalku hampir tiba. Hal ini bukanlah kebetulan. Semua ini adalah kejaiban yang nyata. Tuhan ingin aku merasakan cinta meskipun hanya satu kali melalui dirimu. Tapi aku tidak ingin pergi dengan sedih Val. Aku tidak ingin kau menyesali kepergianku. Oh iya, dari awal CD ini memang untukmu. CD ini jugalah yang mempertemukan kita. Jangan anggap CD ini sebagai kenangan yang menyedihkan. Saat kamu memutar CD ini, kamu tahu bahwa aku tersenyum bersamamu. Tersenyumlah Val, aku tahu, kamu juga menyukaiku pada saat pertama kita bertemu. Pasti :D.
Egi Pramudya
Aku keluar dari 'Music Freak' dengan perasaan yang ringan. Aku terus melangkah dan berusaha untuk tersenyum sesuai pintanya. Aku pun sampai di perempatan, dan sebelum berbelok, sekali lagi aku menoleh ke arah 'Music freak'. Lalu aku melihat seorang pemuda tampan yang berjalan dengan gesit memasuki pintu. Lelaki berambut spike, mengenakan headphones warna hitam dan tas samping. Egi, kau tetap hidup dalam kenanganku.
0 komentar:
Posting Komentar