Jumat, 03 Februari 2012

CD

           
           Pertemuanku dengannya bisa dibilang unik, kalau tidak mau dikatakan kebetulan. Masih kuingat jelas sosoknya saat itu. Model rambut spike-nya, warna pakaiannya, panjang celananya, model tas samping yang ia kenakan, merk jam tangannya, dan andai saja pada saat itu hidungku tidak tersumbat karena pilek, aku yakin akan ingat aroma parfum yang ia pakai! Dan yang paling mendalam adalah tatapan matanya. Tatapan matanya yang mengarah padaku, saat tangan kami bersentuhan. Ketika kami mengambil CD yang sama. CD Sum 41.
            Namun rupanya sosok yang berada di depanku itu terlalu tampan. Aku selalu lemah pada cowok-cowok yang tampan. Entahlah. Dan aku pun melepaskan CD itu padanya. Di luar dugaan, saat-saat dimana cowok itu akan mengalah dan memberikannya padaku tidak pernah datang dan dia   menerima tawaranku dengan senang hati. Ia tampak puas. Tersenyum lebar pada CD Sum 41.
            Dan disinilah aku berperan, mengamatinya. Mengaguminya diantara orang yang berlalu lalang dan musik yang mengalun.
            Malam minggu, seperti biasa aku selalu ke tempat favoritku, 'Music Freak'. Setelah mengamati kalau-kalau ada CD baru, aku langsung duduk di kafe 'Music Freak' sambil menikmati fasilitas Hotspot. Sesekali aku melihat sekeliling. Mencari sosok laki-laki yang bahkan tak ku ketahui namanya itu. Kafe semakin ramai, dan yang paling menyebalkan mereka semua berpasangan. Entahlah, menyebalkan sekali melihat mereka. Mungkin mereka merasa dunia ini hanya milik mereka berdua. Tak peduli pada apapun. Mereka sangat egois. Jujur aku tak pernah mengerti pada apa yang mereka pikirkan. Dan dapat disimpulkan, ketidaksukaanku melihat mereka tidak lebih dari ekspresi iri. Menyedihkan.
            Jantungku mulai berdegub kencang saat lelaki yang aku kagumi itu muncul dari balik pintu. Gaya nya yang cool dan cuek, senyum tipisnya, dan cara berjalannya yang tergesa-gesa dan gesit membuatku berpaling dari notebook-ku selama beberapa menit.
            Kulihat ia juga sedang berkonsentrasi didepan notebook-nya. Sesaat kemudian ia mengenakan headphones warna hitamnya. Dia penggemar musik. Sudah pasti. Kalau bukan, tidak mungkin ia merelakan setiap malam minggunya untuk kerja part time di 'Music Freak' milik salah satu temannya itu. Sungguh menyenangkan melihat ia duduk sendiri setiap malam minggu. Dan dalam satu minggu pertama setelah peristiwa berebut CD itu, tak pernah kulihat ia berduaan dengan perempuan lebih dari sepuluh menit. Menyenangkan.
            Sayangnya, sampai saat ini aku belum pernah menyapanya lagi. Dia juga tidak pernah menyapa ataupun basa-basi. Padahal ia terlihat riang pada setiap teman-temannya yang berkunjung. Memangnya apa yang kuharapkan? Aku tak mau dianggap sok kenal. Terlebih aku tak ingin terlihat sangat menginginkannya. Meskipun itulah yang sebenarnya.
            Kembali kumainkan jari tangan ku untuk menelusuri situs perkenalan MySpace dan membuka akun ku. Terakhir kali, aku mengupload videoku bernyanyi sambil bermain gitar di dalam kamar. Iseng saja sebenarnya. Maklum, aku tidak pernah menyanyi secara serius di depan umum, dan aku juga tidak pernah lolos seleksi ajang pencarian bakat. Jadi mengupload videoku ke dunia maya adalah cara yang paling mudah untuk meng-ekspose penampilanku pada semua orang. Percaya diri memang beda tipis dengan tidak tahu malu.
            Ternyata sudah ada beberapa komentar yang terposting. Kebanyakan hanya bualan yang tidak bermanfaat. Namun ada satu komentar yang membuatku tertarik.
           
Egi  : “Think before you make up your mine, you don't seem to realize. I can
           do this on my own. And If I fall, I'll take it all. It so easy after all. :)”

            Karena penasaran, aku membuka profil seseorang yang memberikan komentar itu. Aku tergelak tak percaya saat melihat foto profil miliknya. Fotonya yang mati pun dapat meningkatkan frekuansi detak jantungku. Hanya dia yang dapat membuatku merasa begini. Ya, dia! Dia bernama Egi Pramudya.
            Komentar itu ter posting satu minggu yang lalu. Dan aku belum menanggapi komentar Egi! Bagaimana kalau dia menganggapku sombong? Mendadak aku jadi salting dan malu sendiri. Aneh. Seharusnya aku menyapanya saat kita bertemu muka nanti. Tapi aku tak tahu harus berbicara apa. Tapi paling tidak, kini aku tahu dia belum melupakanku. Penampilanku yang nyaris tidak pernah dilihat oleh siapapun itu kini telah dilihat oleh orang yang kukagumi. Tidak menutup kemungkinan, ia juga penasaran padaku. Pasti.
            Jam menunjukkan pukul sembilan malam dan aku pun bergegas pulang. Aku berdiri dan berjalan menuju pintu keluar, melewati meja Egi. Sampai saatnya tiba, pandang kami bertemu dan aku hanya mengangguk sambil sedikit tersenyum sebagai ganti ucapan, “ Aku pulang duluan ya, terima kasih atas komentar nya.”
            Dia pun membalas dengan mengangkat kedua alis dan senyum yang sangat tipis. Ternyata dia sangat cuek. Benar-benar cuek. Tapi aku tidak menyesal melakukannya. Dan balasannya yang sangat singkat itu, kuartikan sebagai, “Ya, sama-sama. Minggu depan main lagi, ya?”
            Pasti! Aku akan datang lagi.
***
            Malam minggu ke dua ini aku datang lebih awal. Suasana masih belum ramai dan Egi juga belum datang. Dua jam berlalu dan langkah-langkah gesit nya belum terlihat juga. Aku mulai kecewa. Hari ini dia tidak akan datang. Mood-ku jadi jelek dan tambah jelek saat suasana menjadi lebih ramai. Lebih baik pulang saja!
            Aku keluar dari 'Music freak' dan dua detik kemudian aku menyesal kenapa tidak pulang dari tadi, atau pulang nanti saja. Kenapa aku harus melihat pemandangan yang menyebalkan. Egi berada di dalam sebuah mobil bersama seorang perempuan. Perempuan yang tinggi dan sangat cantik. Mereka terlihat sangat dekat. Perempuan itu sungguh perhatian. Sudut mata Egi sempat melihat ke arah ku, sebelum kaca mobilnya tertutup dan melaju menjauhi ku.
            Aku kecewa. Jelas. Lelaki pertama yang sangat kukagumi ternyata sudah tidak sendiri. Untuk apa aku berharap lebih selama ini. Sia-sia saja, seperti orang bodoh. Aku harus melupakannya. Aku harus bersikap biasa saja.
***
            Malam minggu ke tiga ini aku ke 'Music Freak' untuk mencari CD baru dan ber-hotspot ria di kafe. Aku memilih tempat duduk yang kosong di bagian paling pojok. Beberapa menit kemudian Egi datang dan melihat seisi kafe seolah mencari seseorang. Huh! Aku tidak mau melihatnya. Tapi beberapa saat kemudian aku kembali mengamatinya dan secara tidak sengaja pandang kami bertemu. Aku memalingkan muka secepatnya untuk menghindari tatapan matanya. Bodohnya, setelah itu aku kembali menoleh padanya dan dia masih menatapku. Pandangnya berhenti padaku dan saat itulah aku sadar bahwa yang dia cari dari tadi adalah aku.
            Dia sangat santai. Dia duduk semeja denganku seolah-olah dia sudah berteman lama denganku.
            “Maaf mengganggu, boleh duduk disini?”
            “Boleh,” jawabku sambil terus menatap notebook.
           
            Setelah itu dian terus mengajakku berbincang bincang. Entah kenapa aku juga merasa sangat cocok dengannya. Topik pembicaraan kita hampir selalu sama.
           Dia terus berbicara, dan saat dia berbicara aku hanya mengangguk dan tersenyum sambil terus melihatnya sampai dia meninggalkan mejaku dan tidak terlihat lagi oleh mataku.
            Aku tidak habis pikir. Tiga minggu yang lalu aku bertemu dengan Egi  secara  kebetulan. Lalu aku menyukainya saat itu juga. Seperti kebanyakan cowok tampan lainnya, dia sangat cuek. Namun dengan kebetulan juga dia menemukan profilku di MySpace, menyapaku, dan malam ini aku berbincang lama dengannya. Bagaimana bisa? Sebenarnya apa yang dia pikirkan tentangku? 
            Malam minggu ke empat. Masih dengan antusias aku memainkan jari-jari ku untuk menjelajahi dunia maya di pojok 'Music Freak'. Malam ini cukup sepi. Hari ini bahkan 'Music Freak' dijaga oleh orang yang tak ku kenal sebelumnya. Egi dan teman-temannya sama sekali tidak ada. Apa yang mereka lakukan?
            Suasana ini sungguh sangat tidak menyenangkan. Tiba-tiba aku juga merasakan hal aneh menyelimutiku. Seolah sekitarku menjadi dingin. Aku merasakan atmosfir yang lain. Detik-detik berikutnya aku merasakan pererasaasaan-perasaan yang campur aduk. Aku merasa  sedih dan kosong tanpa sebab yang jelas. Kesunyian ini membuatku ketakutan.
            Pada hari minggu, aku sengaja datang ke 'Music Freak' untuk menemui Egi.  Namun yang kutemui justru seorang wanita cantik. Wanita yang ternyata adalah kakak Egi. Aku telah salah paham. Wanita yang ada di dalam mobil bersama Egi beberapa minggu yang lalu adalah kakaknya, bukan kekasihnya. Ketika aku bertemu dengan wanita itu, pada saat itulah aku tahu bahwa Egi sudah tidak ada disini dan aku tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.
            Dengan wajah sedih, wanita itu menyerahkan sebuah benda terbungkus rapi padaku. Bungkusan itu dari Egi. Bungkusan itu dititipkan padanya untuk diberikan padaku jika dia sudah pergi.
            Aku duduk di pojok 'Music Freak' dengan lunglai.  Aku pun membuka bungkusan yang ada di tanganku. Aku sangat terharu begitu tahu bahwa benda yang terbungkus itu adalah CD Sum 41. Aku membuka CD itu dan mendapati sepucuk surat didalamnya.  Kutarik napasku dan mulai membacanya.

Hai Valerine,
Jujur, aku masih belum menemukan sapaan yang pas untuk mengawali surat ini ;) Aku tidak tahu bagaimana persisnya reaksimu saat membaca surat ini. Maafkan aku Val. Aku harap kamu dapat memaafkan aku. Apapun reaksimu, aku mengartikannya sebagai jawaban “Iya”. Saat kamu membaca surat ini, mungkin kau juga akan sadar betapa miripnya kita. Aku tidak ingin membayangi hidupmu, tapi hal ini harus aku ungkapkan. Bahwa aku menyukaimu semenjak pertama kali kita bertemu. Percaya atau tidak, kamu adalah gadis yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Aku tidak pernah berhubungan dengan gadis manapun dan aku memang tidak ingin melakukannya. Untuk apa aku jatuh cinta, kalau  aku sudah tahu kapan aku akan mati? Dulu aku tidak pernah percaya pada keajaiban. Namun nyatanya Tuhan memberikan rasa cinta justru pada saat ajalku hampir tiba. Hal ini bukanlah kebetulan. Semua ini adalah kejaiban yang nyata. Tuhan ingin aku merasakan cinta meskipun hanya satu kali melalui dirimu. Tapi aku tidak ingin pergi dengan sedih Val. Aku tidak ingin kau menyesali kepergianku. Oh iya, dari awal CD ini memang untukmu. CD ini jugalah yang mempertemukan kita. Jangan anggap CD ini sebagai kenangan yang menyedihkan. Saat kamu memutar CD ini, kamu tahu bahwa aku tersenyum bersamamu. Tersenyumlah Val, aku tahu, kamu juga menyukaiku pada saat pertama kita bertemu. Pasti :D.                                                                                                                                                
                                                                                                                                    Egi Pramudya

            Aku keluar dari 'Music Freak' dengan perasaan yang ringan. Aku terus melangkah dan berusaha untuk tersenyum sesuai pintanya. Aku pun sampai di perempatan, dan sebelum berbelok, sekali lagi aku menoleh ke arah 'Music freak'. Lalu aku melihat seorang pemuda tampan yang berjalan dengan gesit memasuki pintu. Lelaki berambut spike, mengenakan headphones warna hitam dan tas samping. Egi, kau tetap hidup dalam kenanganku.







Share:

Jumat, 01 Juli 2011

BAND CINTA TANAH AIR

Aku tidak tahu mengapa banyak pendapat mengatakan bahwa perempuan tidak bisa bernyanyi rock. Aku sangat menyukai musik rock. Aku suka bermain gitar. Aku suka alunan musik yang keras dan memacu adrenalin. Aku ingin menjadi penyanyi rock profesional. Dan aku adalah perempuan.
Di lingkunganku, hampir setiap manusia suka dengan bermacam hal yang keras. Musik yang keras, watak-watak yang keras, jiwa yang keras, dan aku hidup di kota yang keras.
Sejak aku membuka mata 17 tahun lalu, kekerasan inilah yang aku lihat. Hanya dengan musik aku menjadi bersemangat. Musik mengambil peran penting dalam hidupku. Musik menginspirasiku untuk berani bermimpi dan memiliki harapan. Hanya dengan musik...hanya musik....
Aku akan membuktikan kemampuanku melalui parade musik kali ini. Aku harus mengalahkan mereka, yang menyebut diri mereka sebagai rocker.
Aku melangkah menuju kafe yang telah dipenuhi oleh pemuda rocker. Mereka tengah bercanda gurau ramai-ramai. Sangat bising. Tapi tujuanku kemari bukan untuk bergabung bersama mereka, tapi melihat latihan musik mereka. Mereka tengah menyanyikan lagu dari grup band rock legendaris. Harus aku akui, permainan musik mereka bagus, menguasai penonton. 


“Kamu Gardin ya?” seseorang menyapaku dari samping.
“Iya, aku Gardin,” jawabku.
“Semua yang ikut parade kali ini sudah profesional, bukan pemusik amatir loh,” balas pemuda itu sambil menyeringai.
 

Aku tidak menjawab dan tidak peduli. Tahun lalu aku memang gagal. Tapi aku sudah berubah dari tahun kemarin. Namun masalah yang kuhadapi tetap sama. Aku tidak punya band. Aku pemain musik solo, hanya dengan gitarku. Bagi mereka musikku sangat sepi, monoton. 

Waktu parade tinggal dua minggu lagi. Aku pun sedang liburan semester satu. Seluruh waktu aku curahkan untuk mencari lagu yang tepat. Kegiatanku ini ternyata tidak lepas dari pengawasan orang tuaku. Nilai raporku yang menurun membuat mereka semakin berang padaku. Mereka akan benar-benar melarangku keluar rumah bila nilaiku tidak membaik. Bukan hanya itu, liburan kali ini mereka akan mengirimku ke tempat kakek, di desa. Tidak! Aku butuh inspirasi untuk parade dan aku tidak akan mendapat inspirasi di sana!
“Kamu pilih ke tempat kakek selama dua minggu, atau kamu tidak akan pernah mengikuti parade musik itu lagi?” ancam ibuku yang diiyakan oleh ayah.


Aku tidak punya pilihan. Ini lebih baik daripada harus kehilangan kesempatan dalam parade. Dengan terpaksa, aku harus menghabiskan dua minggu di desa. Paling tidak, mereka masih mengizinkanku untuk membawa gitar.
Dari kota kecil yang ramai, aku menuju desa yang lebih sepi. Di sepanjang perjalanan pun aku masih mencari-cari lagu untuk parade. Aku membayangkan keramaian kafe, musik-musik yang mereka mainkan. Aku pasti akan ketinggalan.
Aku melihat keluar jendela mobil dan yang terlihat adalah pohon-pohon yang hijau. Tanpa bangunan-bangunan megah dan kemacetan jalan raya. Tidak ada pemuda yang berpakaian serba hitam dan nongkrong di pinggir jalan. Yang sesekali terlihat adalah pemuda yang berjalan di depan barisan bebek, menggembalakan sapi atau kambing, dan pemuda yang membuat kerajinan semacam almari, kursi, dan sebagainya. Sangat sepi. Bagaimana mereka bisa hidup di tempat yang sunyi seperti ini? Tidak adakah musik?
Aku sampai di rumah kakek dan di depan rumah aku sudah disambut dengan kerumunan orang. Orang-orang itu tengah melakukan suatu kegiatan di rumah kakek. Mereka melakukan kegiatan rutin, yaitu membuat properti untuk pertunjukan tradisional. Kulihat kakek tengah asik membuat dekor. Beliau adalah ketua dari pertujukan seni tradisional yang disebut Ludruk.
Aku berjalan ke halaman belakang dan menemukan sebuah pintu yang mengarah langsung ke sawah. Bagus! Di sana pasti sepi dan aku akan bebas berlatih. Dengan membawa gitar dan MP4-ku, aku masuk ke daerah persawahan.
Sungguh sepi, luas dan hijau. Tempat paling tenang yang pernah aku kunjungi sepanjang hidupku. Aku segera mencari tempat dan duduk di rerumputan di pinggir sawah. Jemari ku mulai memetik gitar. Aku menikmati suasana sampai seseorang menyapaku dari belakang.
“Hai.”
“H..Hai.”
“Anak kota ya?” tanya pemuda itu.
“Iya.”
Pemuda itu tampak biasa saja. Ia melirik ke arah gitarku.
“Anak band?” tanyanya lagi.
“Iya, tapi aku tidak punya band,” jawabku jujur.
Pemuda itu tersenyum dan mendekat.
“Boleh aku pinjam gitar sampean?” pintanya.
“Injih...,” balasku.
Awalnya aku ragu, untuk apa dia meminjam gitarku. Dia mulai mengambil posisi yang pas dan memainkan jemarinya pada senar gitar. Meski anak desa, paling tidak dia pasti juga bisa bermain gitar.
Aku terkejut, dia bermain gitar dengan sangat mahir. Lagu yang dia bawakan pun bukan lagu yang mudah untuk dinyanyikan. Lagu yang hanya akan aku dengar dari penyanyi rock.
“Kamu anak band?” tanyaku bersemangat.
“Tidak, bukan.”
“Kenapa tidak ke kota saja, mengembangkan bakat kamu?”
“Aku mengembangkan bakatku di sini,” jawab pemuda yang ternyata bernama Joko itu.
“Memangnya di sini ada komunitas musik?”
“Ada, dan lebih bagus dari musik yang kau sukai itu,” balasnya percaya diri.
“Di sini sangat sepi, dimana musik nya?”
“Di sini banyak sekali musik. Cobalah dengarkan,” pintanya sambil mengisyaratkanku untuk diam.
Aku diam dan menajamkan pendengaran. Selain suara kicauan burung dan angin, ternyata memang ada suara. Yang pertama kali kutangkap adalah suara seruling. Ada beberapa bunyi lainnya yang aku dengar, tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari instrumen apa. Beberapa menit kemudian aku sadar bahwa suara-suara itu merupakan suatu kesatuan. Membentuk irama, musik.
“Mau melihat komunitas musikku?” ajak Joko.
“Injih.” balasku menirukan logatnya. 


Aku mengikutinya di belakang. Kami menuju perkampungan penduduk di sekitar daerah persawahan. Yang selanjutnya kulihat adalah keramaian penduduk yang bermain alat musik tradisional. Mereka semua sangat ramah. Kemudian aku tahu, bahwa mereka memainkan alat musik tradisional gamelan yang terdiri dari gong, kenong, dan alat musik tradisional jawa lainnya. Ternyata permainan musik gamelan sangat menarik. Yang aku tahu, gamelan biasanya dimainkan oleh orang dewasa atau orang tua. Namun tidak disini. Seluruh pemain adalah remaja berusia 17-20 tahun. Kesenian musik gamelan yang biasa disebut dengan karawitan itu terdengar labih bersemangat.
Mereka juga mengkombinasikan permainan musik mereka dengan alat-alat musik tradisional lainnya seperti seruling. Kata Joko, mereka tidak hanya memainkan gamelan Jawa saja. Mereka tengah belajar memainkan gamelan Sunda yang mendayu-dayu dengan seruling, memainkan gamelan Bali yang rancak, dan mengkombinasikan ketiganya.
Aku mulai merasa nyaman berada di desa. Setiap hari aku pergi ke sawah dan menuju tempat Joko dan teman-temannya berlatih gamelan. Aku belajar bagaimana caranya memainkan alat musik tradisional dan memang tidak mudah. Tetapi terdapat kepuasan tersendiri apabila dapat memadukannya dengan alat-alat yang lain. Musik tradisional tidak selamanya membosankan.
Beberapa teman Joko secara bergantian juga meminjam gitarku. Mereka juga mencoba memainkannya. Mereka banyak bertanya padaku tentang gitar, seperti aku yang banyak bertanya tentang gamelan. Kadang, aku juga ikut menyanyikan lagu-lagu daerah bersama mereka. Berhari-hari kami melakukannya bersama-sama dengan penuh suka cita.
Karena senang, dua minggu pun terasa sangat cepat. Besok aku harus kembali ke kota. Semua kesenangan dan kesibukkanku selama liburan di desa membuat ku lupa akan parade musik. Parade musik yang sudah aku tunggu-tunggu selama satu tahun. Sampai saatnya hampir tiba, aku belum menemukan lagu yang pas untuk memenangkan parade. Aku berpikir untuk tidak cepat-cepat pulang karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan.
***

Aku datang ke arena parade musik beberapa saat setelah parade berakhir. Panggung dan segala macam peralatan masih tertata di sana. Namun, tidak ada lagi sorot lampu yang megah dan tempat itu menjadi sangat sepi. Aku berdiri di atas panggung dengan menenteng gitarku. Aku memang datang terlambat dan tidak mungkin memenangkan parade. Beberapa orang melihat ke arahku dan itulah yang aku harapkan. Karena aku akan menunjukkan pada mereka semua tentang siapa kita sebenarnya.
Aku memberi aba-aba dan Joko memukul gendangnya dengan semangat. Hentakan gendang Joko mulai mengisi arena parade yang sepi. Hentakan-hentakan gendang yang lainnya mulai bermunculan dan setiap orang mulai mendekat. Mereka belum tahu apa yang aku lakukan. Lampu menyala dan seluruh alat tradisional pun dimainkan. Kami mengaransemen lagu Jawa yang berjudul lir-ilir menjadi lebih rancak dan cepat. Alunan musik ini kami olah menggunakan alat-alat musik tradisional dan gitar elektrik yang aku mainkan. Aku mengajak Joko dan teman-temannya untuk memainkan musik tradisional di kotaku. Aku ingin memunculkan kembali musik tradisional Indonesia di tengah-tengah kota yang mulai melupakannya.
Musik bukanlah masalah menang atau kalah. Tapi tentang mempersatukan semua dalam kebersamaan. Aku bukan lagi Gardin yang bermain musik hanya untuk menunjukkan tentang diriku sendiri. Kini aku Gardin yang memiliki lebih daripada sekedar band rock. Bukan hanya kami, tapi beranggotakan kita semua. Bahwa musik yang dapat dimainkan anak remaja bukan hanya musik yang berasal dari bangsa lain. Inilah bagaimana seharusnya kita. Karena kita adalah remaja Indonesia.
Share:

Sabtu, 25 Juni 2011

Mereka Bilang, Aku Ebol!

Aku dulu pernah protes sama kedua ortuku tentang namaku. Mengapa kok mereka menamai aku dengan nama yang udah pasaran banget ya?

Nama belakangku yang merupakan gabungan dari nama mereka berdua, yang kukira gak kan ada duanya, eh ternyata ada ribuan jumlahnya di Google!. Aku bete banget. Berkali-kali aku protes ke mereka, kayak orang demo ke presiden buat nurunin harga sembako. Mereka hanya bilang, "Udah terlanjur, sayang..". Dan tahu kah kau,sobat? Semua protes yang kuajukan pada ortuku itu terbalas ketika aku duduk di bangku SMA. Beginilah semuanya berawal...

SISA PARAGRAF SELANJUTNYA


1 Juli 2 tahun lalu
Hay Diary,
Hari ini aku uda masuk SMA. Seneng deh. Aku dan teman-temanku uda beranjak remaja. Dari anak ingusan menjadi anak perawan, dari yang pas-pasan jadi*tambah menawan, merubah persahabatan jadi kasmaran...(walah..bo'ong deh..yang ada ni, idup malah jadi tertekan,tugas numpuk sampai berpekan-pekan!)


Demi mengikuti perkembangan itu, kurombak penampilanku. Langkah pertama, dengan menurunkan berat badanku. Maka, aku pun jogging pada hari minggu. Tapi, bukannya tambah langsing, aku malah keseleo. Itu mah apes!. Keesokan harinya aku berjalan terseok-seok ke sekolah. Cara berjalanku yang lucu tidak luput dari mata teman-teman sekelasku yang sangat kreatif dalam memberikan julukan (Baca : yang tak berperasaan dalam memberikan julukan).
Waktu itu pas banget pelajaran biologi. Pelajarannya tentang virus. Ada aja deh, kaitannya antara jalan kaya bebek dengan virus Ebola. Iya, Ebola, gak nyambung banget, kan? Tapi yang jelas, nama itu cukup konyol dan kreatif untuk mengekspresikan keadaanku. Dalam keadaan yang susah itu, anehnya mereka malah ketawa, lebar malah. Julukan ebola pun menyeruak di seluruh penjuru sekolah, dari ujung gerbang depan sampai pojokan gudang belakang. Bete,bete,bete!

8 Juli 2 tahun lalu
Heh! Diary
Kok tega banget sih,mereka...manggil aku kaya gitu. Padahal nama pemberian dari ortuku kan uda bagus.. (Nah lo..baru nyadar kalo bagus, ya?) Pokoknya, takkan kubiarkan nama dari ortuku ini terabaikan. Pembunuhan karakter ini namanya! Pembunuhan karakter!! Berani betul!


Diary : Lho kok gw yang dibentak-bentak?
Keesokan harinya, makin ramai aja yang manggil aku ebol. Malah ada yang manjangin jadi Maria Katong Shebola!. Bagaimana bisa begitu? Panjang ceritanya, kawan.
"bol, ambilin itu donk!"
"bol, yang ini artinya apa?"
"bol, buangin sampah ini, donk.."
"Ya, ampuuun, Ebboool. . !!"
Begitulah suasana kelas tiap hari. Rese banget, kan? Rasanya ingin nyedot mereka pake Vaccum Cleaner! Trus debu nya kubuang ke pulau komodo sana, biar dihisap komodo sekalian.

10 Juli 2 tahun lalu
Hih! Diary
Pokoknya, mulai besok aku gak mau lagi dipanggil ebol! Emang siapa mereka? Siapa Gue? (Nah lo. .nanya-nanya ndiri, emang siapa lo?)

Diary : Mulai amnesia ya, bos??


Keesokan harinya, aku berjalan dengan penuh percaya diri. Teriakan ebol menerjang diriku, tapi sedikitpun aku tidak menoleh. Pandanganku lurus kedepan. Badai, angin, halilintar, penjual es krim, mi ayam, sampai penjual es cendol pun takkan menggoyahkan pertahananku. Akan tetapi....tiba-tiba saja ada yang menerjangku dari belakang. Yang ini lain.
"Eb, ebool..." suara lembut nan sejuk menerjangku, kali ini tidak sempat masuk ke dalam otakku, namun langsung ditangkap oleh hatiku.
Aku menoleh. Ya ampun! Elang! Dia itu anak baru pindahan dari Bandung, OMG!
"Iya...ada apa?" balasku mengalir begitu saja.
"Aku mau ikut English Club ni, bisa daftar lewat kamu,kan?"
"Iya, tentu! Langsung aja!"
Dengan demikian dinyatakan : Rusaklah sudah pertahananku!

11 Juli 2 tahun lalu
Argh! Diary
Gagal,gagal,gagal...gagal total! ini gak boleh terulang kembali! Aku gak mau lagi dipanggil ebol! Demi harkat martabat keluarga!

Catatan: Kecuali, kalau manggil ebol nya dengan lembut nan halus kaya yang dilakuin Elang....

Diary : Terserah lu aja deh..


Keesokan harinya, teriakan ebol tak ku acuhkan. Tentu saja! Tapi hanya sampai serangan itu datang lagi menyerangku
"Eb, Ebool.." Ya Ampuun...suara lembut nan sejuk itu menarik-narik rambutku, menggelayuti lenganku, dan sedetik kemudian aku sudah berada di sampingnya.
"Ada apa?" balasku.
"Thanks ya, udah bantuin aku kemarin, bla,bla,bla,bla,bla,bla,blalalalala.......OK?" tanyanya. Elang langsung ngoceh, dan tak satu pun kata kuhentikan.
"SURE!" jawabku. Elang ngajak aku jalan!

Di cafe :
"Kamu itu menarik lo" kata Elang.
"Masa, sih?" kataku pura-pura gak ngerasa.
"Iya, kamu tau gak kenapa kamu menarik?"
"Ya gak tahu, aku gak bisa nerawang"
"Ha..ha..kamu itu kocak ya, yang paling menarik itu nama kamu, Ebol. Imut banget, manis, bikin aku ketagihan buat manggil kamu terus. Eb,Eb, Ebbooool..."
Aku tergelak tak percaya, untuk pertama kalinya dalam hidupku seolah berkata, "Ulangin lagi donk, panggil lagi! Ayok!"

12 Juli 2 tahun lalu
Whazzup! Diary
Diary. . ...aku gagal lagi,tapi......aku, aku... sebodo amat deh, mereka mau bilang aku apa! Toh bagaimanapun juga aku tetap aku!

Catatan : apalagi yang panggil Elang, mau Ebol, Ibol, Obil, obol-obol,..wokeh!!

Diary : yang benar aja,loe.. Dasar Ebol!
Share:

Rabu, 18 Mei 2011

Joan Jett's Biopic Movie


  • Orientation
If you are one of 70's era rock music fan, of course you have already known Joan Jett. Yap! Joan Jett the vocalist and guitar player. If you don't know anything about her, don't be worried. Floria Sigismondi-movie directors, brings that 70's rock music in this new era. Not only about music but you will also watch the way Joan Jett begins her career as a musician. Similar with Almost Famous-directed by Cameron Crowe, both of them are connected with famous rock band, set in 70's era, and all about teenagers. But in The Runaways, there are more conflicts between dreams, team work, family, and drugs. So, this is the the story about Joan Jett and her first band, The Runaways.
  • Interpretative Recount
Joan Jett, the girl who wanted to be a lady rocker lived in a wild life. With her guitar skills, she joined an audition and failed. She keep trying, until she met Kim Fowley-a record producer. She talked about starting all-girl rock band. Kim was interested and introduced her to Sandy West, a drummer. By the times, they jamming together and recruited another musician. To complete The Runaways, they recruited a hot blondie Cherie Curie. Soon, The Runaways got signed to Mercury records and recording an album. They became famous in a few times. All of these success, changed their life a lot. They used drugs in the way to give the best performance to their fans. This condition suddenly changed when Cherie bored with their wild life, she missed her family. Cherie out of the band and that was the ending of The Runaways carrer. Joan Jett came back to her previous life and got her hardest life but she still continued to play music with her new band, Joan Jett and The Blackheart. She made her own music and songs. After rejected by 23 major labels, she released her own album on her own. Her first single titled “I love rock and roll” became number one hit and sold over one million copies. She became one of the most famous lady rocker who played an instrument.
  • Evaluation
This biography of Joan Jett's band movie released in March 23 2010 and sold for about $805 in the first week and in the next month it reached up $2 million. It left theathers on june 3 and reached up $4 million. It also released on DVD. It nominated in Mtv teen choice awards as drama movie nomination and best actress. It also nominated in the 2010 Classic Rock Awards.
  • Evaluation Summation
This movie is not good for children, because they can immitate the bad things in it, such as drugs and violence. But this movie can teach all of teenagers about the dangerous of drugs and free life. Where drugs can break our mind, our body, and break our relationship between society and family. This movie also motivate teenagers to never give up. If we have a dream, then get up, work hard, and make it happen.

 
The Runaways Movie Trailer

Review ini aku buat untuk melengkapi tugas bahasa inggris pas kelas 3 SMA kemarin. I like it so much. :D
Share: