Aku tidak tahu mengapa banyak pendapat mengatakan bahwa perempuan tidak bisa bernyanyi rock. Aku sangat menyukai musik rock. Aku suka bermain gitar. Aku suka alunan musik yang keras dan memacu adrenalin. Aku ingin menjadi penyanyi rock profesional. Dan aku adalah perempuan.
Di lingkunganku, hampir setiap manusia suka dengan bermacam hal yang keras. Musik yang keras, watak-watak yang keras, jiwa yang keras, dan aku hidup di kota yang keras.
Sejak aku membuka mata 17 tahun lalu, kekerasan inilah yang aku lihat. Hanya dengan musik aku menjadi bersemangat. Musik mengambil peran penting dalam hidupku. Musik menginspirasiku untuk berani bermimpi dan memiliki harapan. Hanya dengan musik...hanya musik....
Aku akan membuktikan kemampuanku melalui parade musik kali ini. Aku harus mengalahkan mereka, yang menyebut diri mereka sebagai rocker.
Aku melangkah menuju kafe yang telah dipenuhi oleh pemuda rocker. Mereka tengah bercanda gurau ramai-ramai. Sangat bising. Tapi tujuanku kemari bukan untuk bergabung bersama mereka, tapi melihat latihan musik mereka. Mereka tengah menyanyikan lagu dari grup band rock legendaris. Harus aku akui, permainan musik mereka bagus, menguasai penonton.
“Kamu Gardin ya?” seseorang menyapaku dari samping.
“Iya, aku Gardin,” jawabku.
“Semua yang ikut parade kali ini sudah profesional, bukan pemusik amatir loh,” balas pemuda itu sambil menyeringai.
Aku tidak menjawab dan tidak peduli. Tahun lalu aku memang gagal. Tapi aku sudah berubah dari tahun kemarin. Namun masalah yang kuhadapi tetap sama. Aku tidak punya band. Aku pemain musik solo, hanya dengan gitarku. Bagi mereka musikku sangat sepi, monoton.
Waktu parade tinggal dua minggu lagi. Aku pun sedang liburan semester satu. Seluruh waktu aku curahkan untuk mencari lagu yang tepat. Kegiatanku ini ternyata tidak lepas dari pengawasan orang tuaku. Nilai raporku yang menurun membuat mereka semakin berang padaku. Mereka akan benar-benar melarangku keluar rumah bila nilaiku tidak membaik. Bukan hanya itu, liburan kali ini mereka akan mengirimku ke tempat kakek, di desa. Tidak! Aku butuh inspirasi untuk parade dan aku tidak akan mendapat inspirasi di sana!
“Kamu pilih ke tempat kakek selama dua minggu, atau kamu tidak akan pernah mengikuti parade musik itu lagi?” ancam ibuku yang diiyakan oleh ayah.
Aku tidak punya pilihan. Ini lebih baik daripada harus kehilangan kesempatan dalam parade. Dengan terpaksa, aku harus menghabiskan dua minggu di desa. Paling tidak, mereka masih mengizinkanku untuk membawa gitar.
Dari kota kecil yang ramai, aku menuju desa yang lebih sepi. Di sepanjang perjalanan pun aku masih mencari-cari lagu untuk parade. Aku membayangkan keramaian kafe, musik-musik yang mereka mainkan. Aku pasti akan ketinggalan.
Aku melihat keluar jendela mobil dan yang terlihat adalah pohon-pohon yang hijau. Tanpa bangunan-bangunan megah dan kemacetan jalan raya. Tidak ada pemuda yang berpakaian serba hitam dan nongkrong di pinggir jalan. Yang sesekali terlihat adalah pemuda yang berjalan di depan barisan bebek, menggembalakan sapi atau kambing, dan pemuda yang membuat kerajinan semacam almari, kursi, dan sebagainya. Sangat sepi. Bagaimana mereka bisa hidup di tempat yang sunyi seperti ini? Tidak adakah musik?
Aku sampai di rumah kakek dan di depan rumah aku sudah disambut dengan kerumunan orang. Orang-orang itu tengah melakukan suatu kegiatan di rumah kakek. Mereka melakukan kegiatan rutin, yaitu membuat properti untuk pertunjukan tradisional. Kulihat kakek tengah asik membuat dekor. Beliau adalah ketua dari pertujukan seni tradisional yang disebut Ludruk.
Aku berjalan ke halaman belakang dan menemukan sebuah pintu yang mengarah langsung ke sawah. Bagus! Di sana pasti sepi dan aku akan bebas berlatih. Dengan membawa gitar dan MP4-ku, aku masuk ke daerah persawahan.
Sungguh sepi, luas dan hijau. Tempat paling tenang yang pernah aku kunjungi sepanjang hidupku. Aku segera mencari tempat dan duduk di rerumputan di pinggir sawah. Jemari ku mulai memetik gitar. Aku menikmati suasana sampai seseorang menyapaku dari belakang.
“Hai.”
“H..Hai.”
“Anak kota ya?” tanya pemuda itu.
“Iya.”
Pemuda itu tampak biasa saja. Ia melirik ke arah gitarku.
“Anak band?” tanyanya lagi.
“Iya, tapi aku tidak punya band,” jawabku jujur.
Pemuda itu tersenyum dan mendekat.
“Boleh aku pinjam gitar sampean?” pintanya.
“Injih...,” balasku.
Awalnya aku ragu, untuk apa dia meminjam gitarku. Dia mulai mengambil posisi yang pas dan memainkan jemarinya pada senar gitar. Meski anak desa, paling tidak dia pasti juga bisa bermain gitar.
Aku terkejut, dia bermain gitar dengan sangat mahir. Lagu yang dia bawakan pun bukan lagu yang mudah untuk dinyanyikan. Lagu yang hanya akan aku dengar dari penyanyi rock.
“Kamu anak band?” tanyaku bersemangat.
“Tidak, bukan.”
“Kenapa tidak ke kota saja, mengembangkan bakat kamu?”
“Aku mengembangkan bakatku di sini,” jawab pemuda yang ternyata bernama Joko itu.
“Memangnya di sini ada komunitas musik?”
“Ada, dan lebih bagus dari musik yang kau sukai itu,” balasnya percaya diri.
“Di sini sangat sepi, dimana musik nya?”
“Di sini banyak sekali musik. Cobalah dengarkan,” pintanya sambil mengisyaratkanku untuk diam.
Aku diam dan menajamkan pendengaran. Selain suara kicauan burung dan angin, ternyata memang ada suara. Yang pertama kali kutangkap adalah suara seruling. Ada beberapa bunyi lainnya yang aku dengar, tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari instrumen apa. Beberapa menit kemudian aku sadar bahwa suara-suara itu merupakan suatu kesatuan. Membentuk irama, musik.
“Mau melihat komunitas musikku?” ajak Joko.
“Injih.” balasku menirukan logatnya.
Aku mengikutinya di belakang. Kami menuju perkampungan penduduk di sekitar daerah persawahan. Yang selanjutnya kulihat adalah keramaian penduduk yang bermain alat musik tradisional. Mereka semua sangat ramah. Kemudian aku tahu, bahwa mereka memainkan alat musik tradisional gamelan yang terdiri dari gong, kenong, dan alat musik tradisional jawa lainnya. Ternyata permainan musik gamelan sangat menarik. Yang aku tahu, gamelan biasanya dimainkan oleh orang dewasa atau orang tua. Namun tidak disini. Seluruh pemain adalah remaja berusia 17-20 tahun. Kesenian musik gamelan yang biasa disebut dengan karawitan itu terdengar labih bersemangat.
Mereka juga mengkombinasikan permainan musik mereka dengan alat-alat musik tradisional lainnya seperti seruling. Kata Joko, mereka tidak hanya memainkan gamelan Jawa saja. Mereka tengah belajar memainkan gamelan Sunda yang mendayu-dayu dengan seruling, memainkan gamelan Bali yang rancak, dan mengkombinasikan ketiganya.
Aku mulai merasa nyaman berada di desa. Setiap hari aku pergi ke sawah dan menuju tempat Joko dan teman-temannya berlatih gamelan. Aku belajar bagaimana caranya memainkan alat musik tradisional dan memang tidak mudah. Tetapi terdapat kepuasan tersendiri apabila dapat memadukannya dengan alat-alat yang lain. Musik tradisional tidak selamanya membosankan.
Beberapa teman Joko secara bergantian juga meminjam gitarku. Mereka juga mencoba memainkannya. Mereka banyak bertanya padaku tentang gitar, seperti aku yang banyak bertanya tentang gamelan. Kadang, aku juga ikut menyanyikan lagu-lagu daerah bersama mereka. Berhari-hari kami melakukannya bersama-sama dengan penuh suka cita.
Karena senang, dua minggu pun terasa sangat cepat. Besok aku harus kembali ke kota. Semua kesenangan dan kesibukkanku selama liburan di desa membuat ku lupa akan parade musik. Parade musik yang sudah aku tunggu-tunggu selama satu tahun. Sampai saatnya hampir tiba, aku belum menemukan lagu yang pas untuk memenangkan parade. Aku berpikir untuk tidak cepat-cepat pulang karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan.
***
Aku datang ke arena parade musik beberapa saat setelah parade berakhir. Panggung dan segala macam peralatan masih tertata di sana. Namun, tidak ada lagi sorot lampu yang megah dan tempat itu menjadi sangat sepi. Aku berdiri di atas panggung dengan menenteng gitarku. Aku memang datang terlambat dan tidak mungkin memenangkan parade. Beberapa orang melihat ke arahku dan itulah yang aku harapkan. Karena aku akan menunjukkan pada mereka semua tentang siapa kita sebenarnya.
Aku memberi aba-aba dan Joko memukul gendangnya dengan semangat. Hentakan gendang Joko mulai mengisi arena parade yang sepi. Hentakan-hentakan gendang yang lainnya mulai bermunculan dan setiap orang mulai mendekat. Mereka belum tahu apa yang aku lakukan. Lampu menyala dan seluruh alat tradisional pun dimainkan. Kami mengaransemen lagu Jawa yang berjudul lir-ilir menjadi lebih rancak dan cepat. Alunan musik ini kami olah menggunakan alat-alat musik tradisional dan gitar elektrik yang aku mainkan. Aku mengajak Joko dan teman-temannya untuk memainkan musik tradisional di kotaku. Aku ingin memunculkan kembali musik tradisional Indonesia di tengah-tengah kota yang mulai melupakannya.
Musik bukanlah masalah menang atau kalah. Tapi tentang mempersatukan semua dalam kebersamaan. Aku bukan lagi Gardin yang bermain musik hanya untuk menunjukkan tentang diriku sendiri. Kini aku Gardin yang memiliki lebih daripada sekedar band rock. Bukan hanya kami, tapi beranggotakan kita semua. Bahwa musik yang dapat dimainkan anak remaja bukan hanya musik yang berasal dari bangsa lain. Inilah bagaimana seharusnya kita. Karena kita adalah remaja Indonesia.
Aku melangkah menuju kafe yang telah dipenuhi oleh pemuda rocker. Mereka tengah bercanda gurau ramai-ramai. Sangat bising. Tapi tujuanku kemari bukan untuk bergabung bersama mereka, tapi melihat latihan musik mereka. Mereka tengah menyanyikan lagu dari grup band rock legendaris. Harus aku akui, permainan musik mereka bagus, menguasai penonton.
“Kamu Gardin ya?” seseorang menyapaku dari samping.
“Iya, aku Gardin,” jawabku.
“Semua yang ikut parade kali ini sudah profesional, bukan pemusik amatir loh,” balas pemuda itu sambil menyeringai.
Aku tidak menjawab dan tidak peduli. Tahun lalu aku memang gagal. Tapi aku sudah berubah dari tahun kemarin. Namun masalah yang kuhadapi tetap sama. Aku tidak punya band. Aku pemain musik solo, hanya dengan gitarku. Bagi mereka musikku sangat sepi, monoton.
Waktu parade tinggal dua minggu lagi. Aku pun sedang liburan semester satu. Seluruh waktu aku curahkan untuk mencari lagu yang tepat. Kegiatanku ini ternyata tidak lepas dari pengawasan orang tuaku. Nilai raporku yang menurun membuat mereka semakin berang padaku. Mereka akan benar-benar melarangku keluar rumah bila nilaiku tidak membaik. Bukan hanya itu, liburan kali ini mereka akan mengirimku ke tempat kakek, di desa. Tidak! Aku butuh inspirasi untuk parade dan aku tidak akan mendapat inspirasi di sana!
“Kamu pilih ke tempat kakek selama dua minggu, atau kamu tidak akan pernah mengikuti parade musik itu lagi?” ancam ibuku yang diiyakan oleh ayah.
Aku tidak punya pilihan. Ini lebih baik daripada harus kehilangan kesempatan dalam parade. Dengan terpaksa, aku harus menghabiskan dua minggu di desa. Paling tidak, mereka masih mengizinkanku untuk membawa gitar.
Dari kota kecil yang ramai, aku menuju desa yang lebih sepi. Di sepanjang perjalanan pun aku masih mencari-cari lagu untuk parade. Aku membayangkan keramaian kafe, musik-musik yang mereka mainkan. Aku pasti akan ketinggalan.
Aku melihat keluar jendela mobil dan yang terlihat adalah pohon-pohon yang hijau. Tanpa bangunan-bangunan megah dan kemacetan jalan raya. Tidak ada pemuda yang berpakaian serba hitam dan nongkrong di pinggir jalan. Yang sesekali terlihat adalah pemuda yang berjalan di depan barisan bebek, menggembalakan sapi atau kambing, dan pemuda yang membuat kerajinan semacam almari, kursi, dan sebagainya. Sangat sepi. Bagaimana mereka bisa hidup di tempat yang sunyi seperti ini? Tidak adakah musik?
Aku sampai di rumah kakek dan di depan rumah aku sudah disambut dengan kerumunan orang. Orang-orang itu tengah melakukan suatu kegiatan di rumah kakek. Mereka melakukan kegiatan rutin, yaitu membuat properti untuk pertunjukan tradisional. Kulihat kakek tengah asik membuat dekor. Beliau adalah ketua dari pertujukan seni tradisional yang disebut Ludruk.
Aku berjalan ke halaman belakang dan menemukan sebuah pintu yang mengarah langsung ke sawah. Bagus! Di sana pasti sepi dan aku akan bebas berlatih. Dengan membawa gitar dan MP4-ku, aku masuk ke daerah persawahan.
Sungguh sepi, luas dan hijau. Tempat paling tenang yang pernah aku kunjungi sepanjang hidupku. Aku segera mencari tempat dan duduk di rerumputan di pinggir sawah. Jemari ku mulai memetik gitar. Aku menikmati suasana sampai seseorang menyapaku dari belakang.
“Hai.”
“H..Hai.”
“Anak kota ya?” tanya pemuda itu.
“Iya.”
Pemuda itu tampak biasa saja. Ia melirik ke arah gitarku.
“Anak band?” tanyanya lagi.
“Iya, tapi aku tidak punya band,” jawabku jujur.
Pemuda itu tersenyum dan mendekat.
“Boleh aku pinjam gitar sampean?” pintanya.
“Injih...,” balasku.
Awalnya aku ragu, untuk apa dia meminjam gitarku. Dia mulai mengambil posisi yang pas dan memainkan jemarinya pada senar gitar. Meski anak desa, paling tidak dia pasti juga bisa bermain gitar.
Aku terkejut, dia bermain gitar dengan sangat mahir. Lagu yang dia bawakan pun bukan lagu yang mudah untuk dinyanyikan. Lagu yang hanya akan aku dengar dari penyanyi rock.
“Kamu anak band?” tanyaku bersemangat.
“Tidak, bukan.”
“Kenapa tidak ke kota saja, mengembangkan bakat kamu?”
“Aku mengembangkan bakatku di sini,” jawab pemuda yang ternyata bernama Joko itu.
“Memangnya di sini ada komunitas musik?”
“Ada, dan lebih bagus dari musik yang kau sukai itu,” balasnya percaya diri.
“Di sini sangat sepi, dimana musik nya?”
“Di sini banyak sekali musik. Cobalah dengarkan,” pintanya sambil mengisyaratkanku untuk diam.
Aku diam dan menajamkan pendengaran. Selain suara kicauan burung dan angin, ternyata memang ada suara. Yang pertama kali kutangkap adalah suara seruling. Ada beberapa bunyi lainnya yang aku dengar, tapi aku tidak tahu suara itu berasal dari instrumen apa. Beberapa menit kemudian aku sadar bahwa suara-suara itu merupakan suatu kesatuan. Membentuk irama, musik.
“Mau melihat komunitas musikku?” ajak Joko.
“Injih.” balasku menirukan logatnya.
Aku mengikutinya di belakang. Kami menuju perkampungan penduduk di sekitar daerah persawahan. Yang selanjutnya kulihat adalah keramaian penduduk yang bermain alat musik tradisional. Mereka semua sangat ramah. Kemudian aku tahu, bahwa mereka memainkan alat musik tradisional gamelan yang terdiri dari gong, kenong, dan alat musik tradisional jawa lainnya. Ternyata permainan musik gamelan sangat menarik. Yang aku tahu, gamelan biasanya dimainkan oleh orang dewasa atau orang tua. Namun tidak disini. Seluruh pemain adalah remaja berusia 17-20 tahun. Kesenian musik gamelan yang biasa disebut dengan karawitan itu terdengar labih bersemangat.
Mereka juga mengkombinasikan permainan musik mereka dengan alat-alat musik tradisional lainnya seperti seruling. Kata Joko, mereka tidak hanya memainkan gamelan Jawa saja. Mereka tengah belajar memainkan gamelan Sunda yang mendayu-dayu dengan seruling, memainkan gamelan Bali yang rancak, dan mengkombinasikan ketiganya.
Aku mulai merasa nyaman berada di desa. Setiap hari aku pergi ke sawah dan menuju tempat Joko dan teman-temannya berlatih gamelan. Aku belajar bagaimana caranya memainkan alat musik tradisional dan memang tidak mudah. Tetapi terdapat kepuasan tersendiri apabila dapat memadukannya dengan alat-alat yang lain. Musik tradisional tidak selamanya membosankan.
Beberapa teman Joko secara bergantian juga meminjam gitarku. Mereka juga mencoba memainkannya. Mereka banyak bertanya padaku tentang gitar, seperti aku yang banyak bertanya tentang gamelan. Kadang, aku juga ikut menyanyikan lagu-lagu daerah bersama mereka. Berhari-hari kami melakukannya bersama-sama dengan penuh suka cita.
Karena senang, dua minggu pun terasa sangat cepat. Besok aku harus kembali ke kota. Semua kesenangan dan kesibukkanku selama liburan di desa membuat ku lupa akan parade musik. Parade musik yang sudah aku tunggu-tunggu selama satu tahun. Sampai saatnya hampir tiba, aku belum menemukan lagu yang pas untuk memenangkan parade. Aku berpikir untuk tidak cepat-cepat pulang karena aku sudah menemukan sesuatu yang lebih menakjubkan.
***
Aku datang ke arena parade musik beberapa saat setelah parade berakhir. Panggung dan segala macam peralatan masih tertata di sana. Namun, tidak ada lagi sorot lampu yang megah dan tempat itu menjadi sangat sepi. Aku berdiri di atas panggung dengan menenteng gitarku. Aku memang datang terlambat dan tidak mungkin memenangkan parade. Beberapa orang melihat ke arahku dan itulah yang aku harapkan. Karena aku akan menunjukkan pada mereka semua tentang siapa kita sebenarnya.
Aku memberi aba-aba dan Joko memukul gendangnya dengan semangat. Hentakan gendang Joko mulai mengisi arena parade yang sepi. Hentakan-hentakan gendang yang lainnya mulai bermunculan dan setiap orang mulai mendekat. Mereka belum tahu apa yang aku lakukan. Lampu menyala dan seluruh alat tradisional pun dimainkan. Kami mengaransemen lagu Jawa yang berjudul lir-ilir menjadi lebih rancak dan cepat. Alunan musik ini kami olah menggunakan alat-alat musik tradisional dan gitar elektrik yang aku mainkan. Aku mengajak Joko dan teman-temannya untuk memainkan musik tradisional di kotaku. Aku ingin memunculkan kembali musik tradisional Indonesia di tengah-tengah kota yang mulai melupakannya.
Musik bukanlah masalah menang atau kalah. Tapi tentang mempersatukan semua dalam kebersamaan. Aku bukan lagi Gardin yang bermain musik hanya untuk menunjukkan tentang diriku sendiri. Kini aku Gardin yang memiliki lebih daripada sekedar band rock. Bukan hanya kami, tapi beranggotakan kita semua. Bahwa musik yang dapat dimainkan anak remaja bukan hanya musik yang berasal dari bangsa lain. Inilah bagaimana seharusnya kita. Karena kita adalah remaja Indonesia.
0 komentar:
Posting Komentar